<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d6965651\x26blogName\x3d**+Atas+Nama+Kata-Kata+**\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dSILVER\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://e-nursanti.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3dfr_LU\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://e-nursanti.blogspot.com/\x26vt\x3d2142896025849363546', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

dimanche, juin 19, 2005

:: Dongeng Cinta Sang Hujan :: 

Episode I Untuk Sebuah Nostalgia

Tik..tik..bunyi hujan di atas genting
Airnya turun tidak terkira,
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua

Pada suatu hari di waktu lalu, hujan turun begitu derasnya

Siapa yang tak mengenal lagu anak-anak di atas. Mereka yang seusia saya, di bawah saya, bahkan mungkin seusia ibu saya pun pasti mengenal lagu ini. Lagu yang liriknya sederhana saja, singkat, padat, lugas dengan melodi yang juga sederhana, tidak memerlukan pelajaran teknik vocal nan rumit, bercerita tentang hujan dengan begitu sedehana, sesederhana pikiran polos dan lugu para bocah itu. Yah, namanya juga lagu anak-anak. Lagu yang tepat buat mereka pun adalah lagu-lagu seperti ini,yang sederhana saja tapi lebih bermakna daripada lagu anak-anak yang tak jelas apa isi ceritanya dan akhirnya lenyap seperti ditelan bumi. (Sederhana-sederhana mulu, kayak restoran Padang aja).

Dulu, waktu di TK, selain lagu Pelangi,Bintang Kecil, Satu-satu, lagu ini merupakan salah satu lagu yang paling sering aku nyanyikan di depan kelas pada saat ada pelajaran menyanyi. Baru setelah di SD, aku mulai menyanyikan lagu yang lebih gedhean, seperti Desaku, Bunga Nusa Indah, Di Pucuk Pohon Cemara, Terbenam Matahari sampai Serumpun Padi, di tepinya Sungai Serayu, sampai Rayuan Pulau Kelapa dan beberapa lagu perjuangan atau lagu daerah. Kalau untuk permusikan nasional, jangan salah, waktu itu aku sudah jadi pengamat musik. Yang lagi nge-hits adalah jenis lagu-lagu mellow ala Pance Pondaag, Deddy Dores, sampai era Obbie Messakh, dengan sederet penyanyi wanita yang melankolis. Makanya aku setuju sama Menpen waktu itu Harmoko, yang melarang pemutaran lagu-lagu seperti itu . Masih ingatkan dengan lirik salah satu lagu yang sangat tekenal waktu itu? Pulangkan saja, aku pada ibuku atau ayahku wooooww..woooww..wooowww, sampai eneg deh.

Yang sedikit rancak dan sedikit beda mungkin lagu-lagunya Ria Resty Fauzi atau Oom Chrisye itupun tidak semua, o iya, waktu itu yang lagi ngetop abis lagu Apanya Dong..Dang Ding Dong-nya Euis Darliah tea. Sempat sedikit mengecap lagu-lagu balada Ebiet G Ade, Franky dan Jane, Iwan Fals sampai lagu-lagu jorok-semi porno-nya Kang Doel Sumbang. Itupun aku dengernya dari koleksi oom Edi adik mamaku yang waktu itu tinggal serumah denganku. Yah, maklum saja, waktu itu siaran televisi hanya ada TVRI dengan acara yang itu-itu saja, begitu-begitu saja, serupa tapi tak sama. Acara paling membosankan, Laporan Khusus setelah Dunia Dalam Berita. Huuuuu, turun..turun..turun !!! Belum ada televisi swasta, televisi kabel apalagi MTV.

Juga belum banyak playgroup dan TK yang mengenalkan bahasa Inggris di usia begitu dini, meski aku sudah mengenal beberapa lagu berbahasa Inggris sederhana seperti My Bonie, Edelweiss, atau Twinkle-twinkle Little Star, atau London Bridge is Falling Down (itu judulnya bukan yah..hehe), yang aku pelajari dari buku bermain musik dan mengenal not balok, sambil aku mainkan di keyboard sederhana yang dibelikan oleh ayahku, dan untuk mendapatkannya aku harus bisa jadi juara kelas. Huh, pemerasan orangtua pada anaknya . Ups, I am sorry, Dad. Waktu itu rasanya udah top banget tuh punya keyboard yang sudah ada pilihan ragam musiknya, udah bisa jedang-jedung, jezzzzz-jezzzzzz, jedang-jedung, jezzzz..jezzzzz, tinggal pilih musik yang sesuai dengan melodinya. Jadilah aku komposer amatiran. Dulu aku juga senang sekali menonton acara Ayo Menyanyi yang dipandu Bu Fat (tapi, kenapa sekarang aku tidak jadi seorang penyanyi terkenal yah?)

Balik lagi ke soal lagu anak-anak, sampai sekarang, lagu-lagunya pak AT Mahmud ini masih diajarkan oleh para guru TK atau ibu-ibu pada para anaknya (sudah tradisi, seperti kata iklan biskuit), di sela gempuran sekolah-sekolah playgroup dan Kids School yang imported dengan mengajarkan lagu-lagu berbahasa asing. Belum lagi cekokan tayangan film-film animasi Jepang atau Nickelodeon on TV yang diborong salah satu stasiun televisi swasta, dengan menayangkan hampir sepanjang hari. Tak apalah, untuk sebuah alasan ini era globalisasi dan jaman memang sudah berubah, dan memang harus seperti itu bila tidak ingin tersingkir, berharap saja, semoga generasi MTV seperti sekarang ini tidak akan kehilangan akar budayanya. Setidaknya lagu-lagu seperti ini sudah menjadi everlasting song alias sudah menjadi lagu legenda anak-anak yang dengan mudah bisa didapatkan kaset, CD juga VCD-nya di deretan rak toko-toko musik terkemuka maupun tidak, juga di lapak-lapak terpal pasar, terminal dan stasiun, tinggal pilih mau yang orisinil atau bajakan!

Episode II Untuk Sebuah Fatamorgana

Tik..tik..tik bunyi hujan di atas genting
Hujan renik di luar sana mulai teteskan titik-titik airnya
Simponi indah tercipta serupa sonata
Tak perlu ada interlude..teruskan saja nyanyi sunyimu
Itu cukup untuk membuatku orgasme

Jakarta suatu sore, dan hujan turun begitu derasnya

Sore ini aku berada di Daily Bread, sebuah bakery café, yang berada dalam salah satu gedung pencakar langit di ibukota ini. Menyeruput secangkir Coffee Latte Machiatto hangat dan menikmati sepotong Banana Cheese Bun. Sendiri pula. Bukan kebiasaanku untuk nongkrong seorang diri seperti ini, huh, seperti tidak punya teman saja. Tapi, barusan aku bertemu seseorang untuk hal yang behubungan dengan masa depan. Interview. Sebenarnya aku tak ingin berlama-lama di sini, tapi hujan deras membuatku terperangkap di sini. Yah, sudahlah, terpaksa sedikit membuang waktu di sini. Aku lihat sekelilingku. Beberapa meja terisi dan mereka tampak asyik mengobrol. Banyak juga orang berlalu lalang di sini, di dalam kafe ini atau pun di luarnya. Aku melihat para petugas keamanan yang menjaga gedung ini, menjaga dengan ketatnya. Setiap tamu yang datang, harus mengisi buku tamu dan tas-tas bawaan mereka diperiksa satu-persatu. Tentu saja aku melihat mereka semua, karena kafe ini hanya dikelilingi oleh kaca-kaca yang amat bening, sehingga bila dilihat dari luar, mungkin aku terlihat seperti ikan dalam sebuah akuarium.
Dari balik kaca, aku melihat hujan masih mengguyur, hmmm..enaknya ngapain yah,dan di luar masih tetap hujan dan ia terus menggelondot di benakku.

Hujan, mungkin ia bukan sesuatu yang istimewa, kadang ditunggu seperti seorang gadis menantikan kekasihnya, tapi terkadang ia juga dicaci maki dengan segala macam umpatan, namun ia akan tetap setia untuk menjalankan perannya untuk menumpahkan air ke muka bumi ini.

Selaksa Hujan di Kota Tua
(ps. Kado untuk kota Jakarta yang sedang merayakan hari
jadi)

Guyur airmu, kapan pun dan di mana pun rasanya sedikit bisa melembutkan panas terik kota yang menusuk pori kulit, gahar wajah para kaum urban, bising suara-suara sumbang pengamen dan anak jalanan, juga para pedagang asongan. Di antara bising raungan dan deru kendaraan mewah ber-ac, kepul asap hitam dari knalpot bis-bis besar, metro mini dan kopaja, atau laju mulus busway di jalanan ibukota, juga gedung-gedung tinggi pencakar langit dan puluhan mall mewah tempat para hedonis berkumpul dan habiskan waktu dan rupiah yang mereka punya, yang setiap jengkalnya mengumandangkan komersialisasi dan kapitalisasi . There's nothing comes for free, my man!


Di antara hiruk pikuk lapak-lapak kumal di pasar-pasar, rumah-rumah kumuh di pinggiran kali, diiringi udara kota yang penuh sesak berisi segala macam polutan. Di antara riuh canda anak-anak yang berlarian bermain hujan karena mereka sudah kehilangan tanah lapang untuk bermain bola, dan angkuh tugu Monas yang seakan bukan lagi milik rakyat, di antara riuh rendah dan marak hujat pada para koruptor kelas kakap dan hangat gossip di berbagai infotainment, juga hingar bingar kehidupan malam dan musik yang menghentak, meja-meja kasino, dan geliat bisnis bebagai kemaksiatan di setiap jengkal kota.

Lenggak-lenggok Jakarta bagai pinggul gadis remaja
berjuta mimpi-mimpi ada, menggoda mereka

jangankan cari surga dunia, neraka dunia pun ada

Mungkin, dalam hati kecilnya kota tua ini akan merindukan hadirmu selalu, menemaninya untuk sedikit memberikan kesejukan. Tapi apa daya, berlama-lama bersamamu akan membuat lagu lama nan klasik kembali terputar berulang, seperti pita kaset kusut yang tak pernah bisa diurai kembali. Entah kapan warga kota ini bisa berkata lantang -Rumah kami bebas banjir, kok- Tetap saja bayang banjir selalui datang menghantui, dan jadikan kota ini seperti kubangan kerbau.

Tampaknya kota ini sudah semakin tua, letih, terasa makin carut-marut, semakin sarat beban yang musti dipanggulnya. Tapi kota tua jantung negeri ini, semoga tak akan pernah mati di antara cucuran peluh, umpat cacimaki, rintih kelaparan, tetes airmata, yang mengalir di sela gelak tawa kami, anak-anak negeri ini.

Selamat Ulang Tahun ke-478, Jakarta
Semoga setelah jam berdentang dua belas kali
Bukan hanya gebyar semarak PRJ,
gemerlap Great Salebration hampir di semua pusat perbelanjaan
Atau boneka ondel-ondel saja yang kan tersisa di hati
mari kita berdoa, perih mengalir bersama alur air
mentari pagi tersenyum di ujung jalan
sejuk di rasa, sejuk di dada
tak ada lagi fatamorgana di pelupuk mata

(dan semoga, Enjoy Jakarta, bukan hanya sebatas slogan)

Yuk jadikan Jakarta kota bermartabat dan berbudaya, hmm bisa nggak ya?

Episode III Untuk Sebuah Epilogue

tik..tik..tik

Aku seperti tersadar. Hei..hujan sudah mulai mereda. Meski gerimis masih ada, tapi paling tidak, sudah tak sederas tadi. Aku melirik jam tanganku. Berapa lama aku tadi melamun. Wah, ada yang memperhatikanku tidak yah..? Kenapa, jadi salting gini sih.?
Dari ruang kafe ini, lamat terdengar sebuah lagu tua yang kembali dirilis ulang.

Selamat tinggal kasih, sampai kita jumpa lagi
Aku pergi tak kan lama
Hanya sekejap saja ku akan kembali lagi
Asal kan engkau tetap menanti

Hmmm, mungkin bisa jadi inilah lagu yang dinyanyikan oleh hujan untuk awan yang ditinggalkannya ketika turun membasahi sang bumi yang semakin keriput ini.
Yah,bisa ya,bisa tidak, aku tidak tahu, yang pasti, aku pun bergegas pulang.


[ eMMy ] [ 1:41 PM ]

ZLINKS!

"Kesepian itu taufan biru, yang menanggalkan ranting-ranting mati, namun dihujamkannya akar-akar hidup ke dalam jantung hidup bumi"(by : Kahlil Gibran) ** HADIR dari sebuah kesunyian..semua berMULA dari KATA....1 aksara jadi kata..2 aksara menjadi kata...5,6,10,50,100,1000 aksara yang terangkai..itupun akan jadi sebuah KATA...karena setiap apa yang terlintas di benak dan terucap oleh lidah adalah KATA!

bilikdiri

tacik

::TACIK:: Perempuan.Bandung.29 Waktu kecil suka mendengar dongeng sang ibu. Mulai menulis diari saat duduk di SD, aktif di Pers Abu-abu dan Pers Mahasiswa pada masanya, dan sewaktu SMA sempat menjadi Pemred Bulletin Pakci SMA 8 Yogyakarta. Penyuka Catatan Pinggir, penikmat film dan musik. Saat ini bekerja dan tinggal di Selatan Jakarta. Menulis baginya, bisa membawanya untuk ziarah ke masa lalu.--Poetry is a way of taking life by the throat-- Robert Frost (1874-1963)

bilikimaji

  • :: Mukadimah ::
  • :: Menanti Sebuah Jawaban ::
  • :: Outbreak::
  • :: Mati Rindu::
  • :: Warning ::
  • :: Biarkan ::
  • :: Ringkih ::
  • ::Rindu::
  • ::prolog::
  • ::Tentangmu::
  • biliklalu

  • mai 2004
  • juin 2004
  • novembre 2004
  • décembre 2004
  • janvier 2005
  • février 2005
  • mars 2005
  • avril 2005
  • mai 2005
  • juin 2005
  • juillet 2005
  • août 2005
  • septembre 2005
  • novembre 2005
  • décembre 2005
  • janvier 2006
  • février 2006
  • avril 2006
  • juin 2006

  • bilikanca

    celoteh koenyil
    lintas sang waktu
    dunia eway
    ruang sepi
    lukisan hati
    kandang biri2
    kupu2 kinara
    kelinci fitria
    dunia rendjana
    taman cinta
    wishlist fajar

    biliksuka

    veterangema
    pasarbuku
    murung
    delayota
    ikapakci
    lyrics
    fiendster
    crazyquizes
    Apelumagueada
    movienayahoo!
    layarperak
    twentyone
    myencyclopedia
    mydetective
    hot&fresh
    jakartapost

    Waktu Indonesia Barat
    -The Time is Rolling-

    bilikpesan

    Powered by TagBoard
    Nama

    URL / Email

    Pesan [smilies]

    engine: Blogger